pertama kali terjadi di mulut dengan bantuan enzim ptialin menjadi alfa amilase -> memecah amilum menjadi karbohidrat.
Makanan dari lambung diberi bikarbonat yang berasal dari pankreas agar suasana menjadi basa, dan menghasilkan maltosa -> menjadi glukosa+ glukosa (enzin maltosa) -> glikolisis.
Glikolisis adalah rangkaian reaksi yang mengubah glukosa menjadi dua molekul piruvat. Atau proses Di dalam tubuh, dimana glukosa akan dioksidasi untuk menjadi senyawa lain sesuai dengan keperluan masing-masing sel, seperti asam laktat dan asam piruvat
Pada glikolisis juga dihasilkan ATP yg akan digunakan oleh sel-sel tubuh serta merupakan Jalur sumber energi terutama bagi eritrosit matur yang tidak punya mitokondria.
Pembentukan Piruvat
Tubuh akan menyerap molekul gula seperti glukosa ke dalam aliran darah.
Sel-sel secara kimia memecah glukosa melalui glikolisis menjadi dua molekul
piruvat.
Jika sel memiliki oksigen yang cukup -> secara kimia bisa membakar piruvat dengan diubah menjadi asetil-KoA(melalui serangkaian reaksi yang disebut Siklus Kreb) -> menghasilkan energi lebih lanjut dan limbah produk (karbon dioksida,oksigen)
Tidak cukup oksigen -> sel-sel mengubah piruvat dengan dipecah secara anaerob, menghasilkan asam laktat namun ≠menghasilkan energi tambahan
PengaturanGlikolisis
hexokinase or glucokinase
phosphofructokinase
pyruvate kinase
PengaturanPertamaGlikolisis:Heksokinase
Mengkatalisis semua heksosa.
Terdapat hampir dalam semua sel, kecuali hepar dan sel-β pankreas.
Enzim
merupakan suatu protein yang berfungsi sebagai biokatalisator dalam reaksi penguraian dan penyusunan suatu zat yang terjadi di dalam sel makhluk hidup.
Biokatalisator
adalah zat yang dapat mempercepat reaksi pada tubuh makhluk hidup tetapi zat
itu sendiri tidak ikut bereaksi.
STRUKTUR ENZIM
Enzim
tersusun atas komponen sebagai berikut:
1.Apoenzim : berupa
protein yang bersifat termolabil
2.Gugus Prostetik : berupa
non protein yang bersifat aktif, yang terdiri atas kofaktor dan koenzim.
Gabungan antara apoenzim
dengan gugus prostetik disebut juga holoenzim.
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KERJA ENZIM
1.Temperatur
2.Pengaruh pH
3.Pengaruh konsentrasi
enzim
4.Pengaruh zat penggiat
(activator)
5.Pengaruh zat penghambat
(inhibitor)
ENZIM-ENZIM SALURAN PENCERNAAN
A.. Kelenjar
ludah
Kelenjar
ludah menghasilkan air ludah (saliva). Saliva
mengandung enzim ptialin atau amilase yang berperan mengubah karbohidrat
menjadi gula yang berfungsi sebagai sumber energi yang kita perlukan untuk
melakukanaktivitas sehari-hari. Pada
ludah juga terdapat enzim lisozim yang berperan memecah protein dan menyerang
bakteri secara langsung.
B. Pankreas
1.Enzim lipase
Enzim ini bekerja memecah lemak menjadi asam
lemak
2.Enzim tripsin
Enzim ini mengubah pepton menjadi asam amino.
C. Usus halus
1. Enzim amilase
Enzim ini berperan mengubah amilum menjadi
disakarida.
2. Enzim lipase
Enzim ini berperan mencerna lemak menjadi asam
lemak dan gliserol
3. Enzim tripsin
Enzim ini berperan mengubah pepton menjadi
asam amino.
4. Enzim enterokinase
Enzim ini berperan mengaktifkan erepsinogen
menjadi erepsin serta mengaktifkan tripsinogen menjadi tripsin.
D. Usus
besar
Pada
usus besar tidak terdapat enzim pencernaan, yang ada adalah bakteri yang
berfungsi mencerna beberapa bahan dan membantu penyerapan zat-zat gizi serta
membuat zat-zat penting,seperti vitamin K.
Enzim adalah katalis yang dapat mengubah laju reaksi tanpa ikut bereaksi. Tanpa kehadiran enzim, suatu reaksi itu sangat sukar terjadi, sementara dengan kehadiran enzim kecepatan reaksinya dapat meningkat 107 - 1013 kali. hanya mengubah kecepatan reaksi dengan menurunkan energi aktivasinya.
Enzim bekerja secara spesifik
Enzim tertentu hanya dapat mengadakan pengubahan pada zat tertentu pula. Dengan kata lain, enzim hanya dapat mempengaruhi satu reaksi dan tidak dapat mempengaruhi reaksi lain yang bukan bidangnya.
Enzim bersifat bolak-balik
Enzim dapat ikut bereaksi tanpa mempengaruhi hasil akhir dan akan terbentuk kembali pada hasil reaksi sebagai enzim. Ketika ikut bereaksi, struktur kimia enzim berubah, tetapi pada akhir reaksi struktur kimia enzim akan terbentuk kembali seperti semula.
Seperti protein
Enzim memiliki sebagian besar sifat protein yaitu dipengaruhi oleh suhu dan pH. Pada suhu rendah protein enzim akan mengalami koagulasi dan pada suhu tinggi akan mengalami denaturasi.
Enzim bersifat termolabil
Aktivitas enzim dipengaruhi oleh suhu. Jika suhu rendah, kerja enzim akan lambat. Semakin tinggi suhu reaksi kimia yang dipengaruhi enzim semakin cepat, tetapi jika suhu terlalu tinggi, enzim akan mengalami denaturasi.
Hanya diperlukan dalam jumlah sedikit
Enzim berfungsi sebagai katalisator, tetapi tidak ikut bereaksi, maka jumlah yang dipakai sebagai katalis tidak perlu banyak. Satu molekul enzim dapat bekerja berkali-kali, selama molekul tersebut tidak rusak.
Penggolongan berdasar ekspresi gen
1. Enzim Indusibel
Gambar 1. (A) Ada laktosa, represor tidak aktif, operon dalam keadaan on, (B) Tidak ada laktosa, represor aktif, operon dalam keadaan off (Campbell et al, 2009).
2. Enzim Konstitutif
Enzim konstitutif ialah enzim yang dibentuk terus-menerus oleh sel tanpa peduli apakah substratnya ada atau tidak.
3. Enzim Regulator
A.Enzim Allosterik Gambar 3. Penghambatan balik pengubahan L-teronin menjadi L-isoleusin (Lehninger, 2004).
mekanisme penghambatan balik pada pengubahan L-teronin menjadi L-isoleusin yang menggunakan lima macam enzim. Enzim yang pertama adalah dehidratase treonin (E1) akan dihambat oleh L-isoleusin yang merupakan produk akhir dari reaksi multienzim tersebut (Lehninger, 2004). B.Enzim Pengatur Kovalen (Covalently Modulated Enzyme) Gambar 4. Gambar 10. Contoh enzim yang diregulasi oleh fosforilasi. (*) enzim dihambat oleh fosforilasi; (**) enzim diaktivasi oleh fosforilasi (Traut, 2007).
terdapat 10 macam jenis enzim yang terlibat dalam suatu sintesis glikogen dan katabolisme glikogen. Enzim-enzim tersebut dipengaruhi oleh fosforilasi. Enzim yang terfosforilasi akan memiliki kestabilan dalam konformasinya. Hal ini penting untuk keperluan reaksi-reaksi yang melibatkan enzim-fosfat (Traut, 2007).
Cara Kerja Enzim :
Lock and Key theory
cara kerja enzim mirip dengan mekanisme kerja kunci dan gembok. Enzim diibaratkan sebagai kunci yang memiliki sisi aktif, sedangkan substratnya diibaratkan sebagai gembok.
Teori Induced Fit
Berdasarkan teori induksi pas (induced fit), enzim diibaratkan dapat melakukan penyesuaian bentuk untuk berikatan dengan suatu substrat. Hal ini ditujukan untuk meningkatkan kecocokan dengan substrat dan membuat ikatan antara enzim dan substrat menjadi lebih reaktif.
Lipid adalah hidrofobik atau amphipathic (hidrofilik dan lipofilik) molekul kecil dan tidak seperti protein, asam nukleat, dan polisakarida yang merupakan polimer makromolekul besar yang dibentuk oleh menghubungkan kimia beberapa molekul konstituen kecil (blok-blok dengan molekul mirip, atau homolog, dalam struktur).
Lipid sering di definisikan sebagai senyawa alami yang tak larut air tetapi larut dalam pelarut non-polar.
MetabolismeLipid
Menurut klasifikasi internasional, lipid saat ini diklasifikasikan ke dalam kategori:
1.Asam lemak
2.Gliserolipid
3.Gliserofosfolipid
4.Sphingolipids
5.Sterol lipid
6.Prenol lipid
7.Saccharolipids
8.Poliketida
Asam lemak terdiri dari rantai hidrokarbon dengan satu gugus dengan karboksil terminal (COOH) yang diproduksi oleh sentase asam lemak dari Asetil-CoA dan Malonyl-CoA prekursor oleh lipase .
Degradasi asam lemak melalui ß-oksidasi menyebabkan pelepasan energi (jumlah besar ATP) dan menghasilkan spesies oksigen reaktif .
Gliserolipid, ester lemak dari gliserol (mono-, di-, tri-gliserida) yang di biosintesa dan jalur monoasilgliserol di usus.
Metabolisme lipid sangat kompleks dan diatur oleh jaringan sinyal komplek dalam sel. Metabolisme pada lipid melalui jalur sinyal yang berbeda-beda. Memahami jalur sinyal metabolisme lipid dalam sel kanker dapat menentukan fungsi dari molekul lipid dan untuk pengembangan obat anti kanker.
Metabolisme lipid dalam terapi kanker dan apoptosis maih membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengembangkan pengobatan kanker baru yang lebih baik lagi dimasa depan.
SEDIAAN OBAT CAIR BERDASAR FARMACOPE INDONESIA EDISI IV
Bentuk sediaan obat terdiri dari beberapa bentuk sediaan diantaranya sediaan padat, sediaan semi padat, sediaan gas dan sediaan cair.
Sediaan cair adalah sediaan yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang terlarut (Farmakope Indonesia, Edisi IV)
Berdasarkan cara pemberiannya sediaan cair ini dibagi lagi menjadi beberapa kelompok diantaranya adalah penggunaan secara oral, topikal, parental dan vaginal.
Larutan
Larutan atau solutio adalah sediaan cair yang mengandung bahan kimia terlarut. Larutan bersifat homogen. Kecuali dinyatakan lain, sebagai pelarut digunakan air suling.
Bila bukan air maka harus dijelaskan dalam namanya,misalnya: Sol. Acidi salicylici spirituosa, Sol. Camphora Spirituosa, Sol. Camphora Oleonosa, Camphora Nitroglycerini spirituosa (Lar. Nitrogliserin dalam spiritus).
Sirup
Suatu sediaan berupa larutan yang mengandung satu atau lebih jenis obat dengan zat tambahan dan mengandung gula sukrosa sebagai pemanis.
Kecuali dinyatakan lain, kadar gula tidak kurang dari 64% atau tidak lebih dari 66%. Sirup dengan kadar gula kurang lebih 65% disebut dengan sirup simplek dan digunakan sebagai pemanis (corigen saporis).misal :dumin paracetamol syr.
Eliksir
Sediaan cair yang mengandung bahan obat dan bahan tambahan (seperti gula, zat pemanis lain, zat warna, zat pewangi, dan zat pengawet) yang memiliki bau dan rasa yang sedap.
Pelarut yang digunakan umunya adalah etanol karena dapat meningkatkan kelarutan zat aktifnya. Etanol yang digunakan etanol 90% dengan kadar 5–15%. misal : bisolfon elixir.
Emulsi
sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat, terdispersi dalam cairan pembawa dan distabilkan dengan emulgator yang sesuai.
Emulsi merupakan campuran zat berminyak dan berair. Emulsi ini terdiri dari 2 macam yaitu emulsi minyak dalam air (O/W) dan emulsi air dalam minyak (W/O).
Biasanya dalam kemasan sediaan emulsi dituliskan penjelasan “Kocok Dahulu” sebelum digunakan supaya zat yang terpisah dapat bercampur merata kembali. misal : scott’s emultion.
Suspensi
Sediaan cair yang mengandung bahan obat berupa partikel halus yang tidak larut dan terdispersi dalam cairan pembawa. Seperti halnya pada emulsi, pada kemasan suspensi juga disertai etiket bertuliskan “Kocok Dahulu” sebelum digunakan dengan tujuan supaya partikel yang mengendap terdispersi merata.
Sediaan suspensi ini selain digunakan secara oral(contoh antasid) juga ada sediaan suspensi yang digunakan secara topikal (contoh selsun) dan suspensi yang digunakan untuk injeksi (contoh kenacort A injeksi).
Guttae (obat tetes)
Sediaan cair berupa larutan, emulsi serta suspensi yang digunakan baik untuk obat luar atau obat dalam yang dilengkapi dengan alat penetes berskala untuk obat dalam dan tidak berskala untuk obat luar.
Jika disebut obat tetes tanpa keterangan lain maka yang dimaksud adalah obat dalam.
Guttae 2kelompok:
1.Guttae pemakaian dalam
2.Guttae pemakaian luar (Optalmic, Auricularis & Nasales)
Guttae ophthalmicae (tetes mata)
Adalah sediaan cair steril bebas partikel asing dan digunakan pada mata. Sediaan ini hanya boleh digunakan selama 30 hari setelah tutupnya dibuka. misal :vinise.
Guttae Auricularis (tetes telinga)
Sediaan cair yang digunakan untuk telinga yang berupa larutan atau suspensi yang digunakan dengan cara meneteskan ke dalam telinga. Bahan pembawanya sebaiknya minyak lemak atau sejenisnya yang mempunyai kekentalan yang cocok sehingga dapat menempel pada liang telinga. misal : ilium 20ml.
Guttae Nasales (tetes hidung) Sediaan cair steril digunakan untuk hidung dengan cara meneteskan obat ke dalam rongga hidung, dapat mengandung zat pensuspensi, pendapar dan pengawet. Pada umumnya zat aktif berkhasiat dekongestan, anestetik lokal atau antiseptik. misal : iliadin nasal sray.
Gargarisma
Sediaan berupa larutan yang umumnya dalam keadaan pekat dan harus diencerkan sebelum digunakan, mengandung antiseptik. Umumnya digunakan untuk pencegahan atau pengobatan infeksi tenggorokan. misal : betadine obat kumur.
Enema
Suatu larutan yang penggunaannya melalui rektum. Kegunaan sediaan enema antara lain untuk memudahkan buang air besar, mencegah kejang atau mengurangi nyeri lokal. Enema juga berfungsi sebagai karminativa, emollient, diagnostik, sedatif, antelmintik, dll Enema diberikan dalam jumlah bervariasi tergantung pada umur dan keadaan penderita. misal : microlax
Douche
Larutan zat dalam air yang dimasukkan dengan suatu alat ke dalam vagina, baik untuk pengobatan maupun untuk membersihkan, karenanya larutan ini mengandung bahan obat atau antiseptik.
Biasanya berupa larutan kental yang diencerkan seperlunya sebelum digunakan.Contoh nya vaginal douche.
Injeksi
Sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan terlebih dahulu sebelum digunakan secara parenteral, disuntikkan dengan cara menembus atau merobek jaringan ke dalam atau melalui kulit atau selaput lendir.
Syarat utama untuk obat yang diberikan parenteral ialah obat tersebut harus steril dan disimpan dalam wadah yang menjamin sterilitas. misal : oxydermal, amikacin, ceftazidine.
Infusa
Sediaan cair yang dibuat dengan menyari simplisia nabati dengan air panas (90 derajat C) selama 15 menit. misal : triofusin